Mengenal Avian Influenza (Flu Burung)

   Diketahui bahwa penyakit Avian Influenza (AI) telah menyebar di Kabupaten Indramayu sejak tahun 2005 dengan kerugian yang ditimbulkan berupa kematian unggas sangat besar. Bahkan di tahun 2006 lalu di Kabupaten Indramayu tercatat Avian Influenza pernah menyerang pada manusia dan menyebabkan meninggal dunia. Hingga kini virus Avian Influenza ini masih terus ditemukan kejadiannya di Kabupaten Indramayu. Data terbaru dari tahun 2019 ini mulai awal tahun sampai tanggal 30 Juli 2019 tercatat hasil positif Avian Influenza sebanyak 17 kejadian berdasarkan hasil Uji Cepat (Rapid Test) positif yang dilaporkan petugas kesehatan hewan pada sistem informasi kesehatan hewan nasional (ISIHKNAS).

Hasil rapid test

Pemeriksaan ayam

Pengambilan sampel

 

   Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah demi pencegahan dan pengendalian Avian Influenza. Namun semua itu menjadi tidak efektif jika salah satu faktor pendukung utama yakni masyarakat tidak berperan aktif di dalamnya. Masyarakat atau lebih tepatnya kebiasaan masyarakat dalam beternak unggas yang masih belum menerapkan konsep kesadaran terhadap penyakit Avian Influenza menjadi faktor tinggi yang mendukung penyabaran AI itu sendiri. Oleh karenanya, mari kita mengenal apa sebenarnya Avian Influenza (AI) itu agar dapat meningkatkan kesadaran dan peran masyarakat dalam pencegahan serta pengendaliannya.

    Avian influenza atau lebih dikenal sebagai flu burung merupakan salah satu penyakit hewan menular strategis yang terjadi baik pada ternak maupun manusia (zoonosis). Penyakit ini menyerang unggas yang disebabkan oleh virus influenza dan mempunyai dampak sangat fatal. Hampir semua unggas peka terhadap virus flu burung ini, terutama kalkun dan burung liar yang tersifat dengan adanya gangguan pernapasan, depresi dan penurunan konsumsi pakan serta minum, penurunan produksi telur, dan penurunan daya tetas telur pada ayam bibit.

Bentuk penyakit ini ada dua yaitu High Pathogenic Avian Influenza (HPAI) dan Low Pathogenic Avian Influenza (LPAI).  Kejadian LPAI bentuk gejalanya lebih ringan, sementara HPAI perlu diwaspadai. Gejala HPAI ditandai dengan adanya proses penyakit cepat dengan tingkat kematian yang tinggi, gangguan produksi telur (berhenti atau menurun drastis), gangguan pernapasan (batuk, bersin, ngorok), leleran berlebih dari mata, sinusitis, edema di daerah kepala dan muka, perdarahan pada bagian permukaan maupun dalam tubuh yang diikuti sianosis (berwarna ungu kebiruan) pada kulit, diare berat dan gangguan syaraf. Gejala tadi bisa karena satu kasus tapi bisa juga karena kombinasi dengan penyakit lain. Kasus tertentu dapat berlangsung sangat cepat sehingga ayam mati mendadak tanpa didahului timbulnya gejala.

   Penularan Avian influenza (flu burung) dapat melalui kontak langsung maupun tidak langsung. Kontak langsung dengan penularan dari ayam ke ayam di peternakan dan melalui leleran (cairan) hidung atau kotoran ayam. Kontak tidak langsung bias melalui terhirupnya udara atau debu yang tercemar virus, air minum, dan peralatan peternakan yang tercemar. Penularan pada manusia bisa karena kontak langsung maupun kontak tidak langsung terlebih jika kondisi tubuh manusia tersebut sedang kurang atau tidak sehat.

    Bentuk pencegahan yang bisa dilakukan terhadap penyabaran AI yaitu dengan menggunakan alat pelindung diri seperti sarung tangan, masker hidung, baju kandang, sepatu, tutup kepala dan mencuci tangan setelah bekerja. Untuk sistem peternakan bisa menerapkan bahwa pengunjung harus menggunakan pakaian pelindung sesuai standar dan tidak berkunjung dari peternakan tertular ke peternakan aman. Untuk pemeliharaan unggas di lingkungan pemukiman sebisa mungkin untuk mengandangkan unggasnya sesuai dengan jenisnya dan lokasinya terpisah dari rumah, rutin membersihkan kandang, selalu mencuci tangan dan kaki dengan sabun setelah menangani unggas peliharaan, mengubur atau membakar sisa pakan dan kotoran unggas, dan jika menemukan kematian unggas mendadak atau gejala penyakit segera untuk melaporakan ke dokter hewan, dinas terkait, atau aparat setempat agar bias segera ditindaklanjuti.

Pengendalian terhadap Avian Influenza bisa dilakukan dengan cara :

  • Peningkatan keamanan melalui biosekuriti.
  • Pemusnahan di daerah tertular (depopulasi), disposal, dan kompensasi.
  • Vaksinasi.
  • Pengawasan dan pembatasan lalu lintas unggas, produk, peralatan, dan limbah peternakan unggas.
  • Deteksi dini dan penetapan diagnosa awal.
  • Pengamatan dan penelusuran penyakit.
  • Pengisian kandang kembali.
  • Peningkatan kesadaran masyarakat.
  • Monitoring dan evaluasi.

Sumber :

Dokumentasi pribadi Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Indramayu

Naipopos, TSP., 2004. Pengendalian Penyakit Avian Influenza dan Langkah-Langkah Penanganannya. Direktorat Kesehatan Hewan, Dirjen Bina Produksi Peternakan. Jakarta.

Tabbu, C.R. 2008. Penyakit Ayam & Penanggulangannya Volume 1: Penyakit Bakterial, Mikal, dan Viral. Kanisius. Yogyakarta.

Swayne, D.E. 2019. Overview of Avian Influenza.  Merck Sharp &Dohme Corp. USA https://www.msdvetmanual.com/poultry/avian-influenza/overview-of-avian-influenza

Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertaninan. 2006. Prosedur Operasional Standar Pengendalian Penyakit Avian Influenza di Indonesia. Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertaninan RI. Jakarta.

Categories:

Kontak Kami

Jalan Tanjung Pura Karang Malang Indramayu

eMail : disnakkeswan.imy@gmail.com

Tlp : 0234 – 7121830

alsancak escort
izmir escort