Biosekuriti Peternakan Unggas

Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 28/Permentan/OT.140/2008 tentang Pedoman Penataan Kompartemen dan Penataan Zona Usaha Perunggasan, biosekuriti merupakan upaya untuk melindungi unggas dari penyakit infeksi dengan menerapkan sanitasi dan usaha pencegahan lainnya. Tindakan biosekuriti dilakukan untuk mengurangi terjadinya penyakit Avian Influennza (AI). Alasannya berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 4026/Kpts/OT.140/4/2013 tentang Penetapan Jenis Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS) disebutkan bahwa AI merupakan salah satu Penyait Hewan Menular Strategis (PHMS) yang dapat menimbulkan angka kematian dan/atau angka kesakitan yang tinggi, berdampak kerugian ekonomi, dan menyebabkan keresahan masyarakat. Apalagi penyakit ini bersifat zoonosis (menular dari hewan ke manusia).

Asal kata biosekuriti adalah dari kata asing biosecurity yaitu bio artinya hidup dan security artinya perlindungan atau pengamanan. Jadi biosecurity adalah sejenis program yang dirancang untuk melindungi kehidupan. Dalam arti yang sederhana kalau untuk peternakan ayam adalah membuat agen penyakit jauh dari tubuh ayam dan menjaga ayam jauh dari agen penyakit. Pelaksanaan program biosekuriti meliputi :

  1. Kontrol lalu lintas

Biosekuritas ini secara umum memberlakukan kontrol tehadap lalu lintas orang, kendaraan pengangkut, bahkan kontrol terhadap lalu lintas hewan baik itu hewan peternakan ataupun hewan liar.

2. Vaksinasi

Aspek lain dari biosekuriti adalah mencegah penyakit melalui vaksinasi. Vaksin bisa dalam bentuk hidup atau mati di mana keduanya sama-sama memberikan reaksi. Usia unggas pada saat vaksinasi terhadap penyakit tertentu dan kapan perlu diulang merupakan faktor penting yang mempengaruhi tingkat, kualitas dan lamanya kekebalan.

3. Pencatatan riwayat flok

Mencatat riwayat flok adalah cara yang mudah untuk menjaga kesehatan flok ayam. Ayam harus secara rutin diperiksa kesehatannya ke laboratorium, dengan mengecek titer darahnya terhadap penyakit tertentu, monitoring bakteriologis dan sampling lainnya. Laporan hasil pemeriksaan laboratorium harus disimpan bersamaan dengan data performa setiap flok atau kandang. Laporan ini sangat bermanfaat begitu masalah muncul.

4. Pencucian kandang ayam

Pencucian kandang ayam merupakan kegiatan biosekuriti yang paling berat. Segera setelah flok ayam diafkir dan liter diangkat keluar kandang, tindakan berikutnya adalah pembersihan dan desinfeksi terhadap seluruh kandang dan lingkungannya. Pencucian kandang dan desinfeksi ini dilakukan secara menyeluruh.

5. Kontrol pakan

Biosekuriti terhadap pakan harus dilakukan terutama ditingkat pabrik pengolahan. Hal ini harus secara ketat dilakukan mengingat banyaknya agen penyakit dan toksin yang dapat mencemari makanan.

6. Kontrol air

Air merupakan sumber penularan penyakit yang utama selain melalui pakan dan udara. Maka perlu dilakukan kontrol terhadap air dengan memeriksa kualitas air sekali dalam setahun melalui pemeriksaan kimiawi dan bakteriologis, sanitasi air juga perlu dijaga, dan dilakuan flushing terhadap instalasi air.

7. Kontrol Limbah

Dalam tatalaksana usaha peternakan ayam sisa-sisa produksi atau limbah sudah jelas akan dijumpai. Limbah ini harus dijauhkan dan dimusnahkan sejauh mungkin dari areal produksi. Bila mungkin harus ada petugas khusus yang mengambil sisa produksi ini secara teratur untuk dibuang atau dimusnahkan di luar areal produksi. Apabila tidak mungkin dibuang atau dimusnahkan di luar, maka harus dipilih di lokasi di dalam wilayah peternakan yang memungkinkan sisa-sisa produksi ini tidak mengganggu kegiatan produksi lainnya serta mencegah pencemaran lingkungan.

Dalam penerapan biosekuriti peternakan unggas pembagian peternakan menjadi 3 (tiga) zona direkomendasikan oleh Kementan dan FAO (The Food and Agriculture Organization), yaitu dengan membagi peternakan menjadi 3 (tiga) area, dari area terkotor ke paling bersih (kandang). Zona ini adalah zona merah, kuning dan hijau, yang dijabarkan sebagai berikut :

Zona Merah adalah zona kotor; batas antara lingkungan luar yang kotor, misalnya lokasi penerimaan dan penyimpanan egg tray/box bekas telur, lokasi penerimaan tamu seperti pembeli ayam/telur, technical service, pengunjung. Pada area ini, sangat dimungkinkan terjadi cemaran.

Zona kuning adalah zona transisi dari zona merah (kotor) ke zona hijau (bersih). Area ini hanya terbatas untuk truk, ransum, DOC, telur. Zona ini hanya diperuntukkan bagi pekerja kandang, penempatan egg tray yang sudah bersih dan yang sudah terisi telur.

Zona hijau adalah zona bersih yang berisi unggas yang diternakan. Zona ini harus selalu terjaga dan terhindar dari berbagai cemaran penyakit. Yang berada di dalam area ini hanyalah pekerja. Semua yang akan masuk ke dalam zona hijau, diwajibkan untuk mengikuti prosedur pembersihan yang telah diterapkan pada tiap-tiap peternakan.

 

Diungkapkan Chief Technical Adviser Unit Khusus Badan Pangan dan Pertanian PBB di Indonesia (FAO ECTAD) , Luuk Schoonman yang mengatakan hasil kajian FAO menunjukan bahwa implementasi biosekuriti 3-zona secara rutin dan konsisten di peternakan ayam petelur secara signifikan menurunkan penggunaan antibiotik 40 % dan disinfektan 30%.

Penerapan biosekuriti menurut Peraturan Menteri Pertanian Nomor 28/Permentan/OT.140/2008 sebagai berikut :

Pada Peternakan Skala Kecil/Menengah

1.Tata laksana

  • lokasi peternakan berpagar dengan satu pintu masuk dan di pintu masuk tersebut dilakukan penyemprotan desinfektan;
  • tata letak bangunan/kandang sesuai dengan GFP;
  • rumah tempat tinggal, kandang unggas serta kandang hewan lain ditata pada lokasi yang terpisah.

2. Tindakan desinfeksi dan sanitasi

  • desinfeksi dilakukan pada setiap kendaraan yang keluar masuk lokasi peternakan pada zona yang dilakukan penataan;
  • tempat/bak untuk cairan desinfektan dan tempat cuci tangan disediakan dan diganti setiap hari dan ditempatkan di dekat pintu masuk lokasi kandang/peternakan;
  • pembatasan secara ketat terhadap keluar masuk material (hewan/unggas, produk unggas, pakan, kotoran unggas, alas kandang, litter, rak telur) yang dapat membawa virus AI dari dan ke lokasi penataan zona;
  • semua material dilakukan desinfeksi dengan disinfektan sebelum masuk maupun keluar lokasi peternakan;
  • pembatasan secara ketat keluar masuk orang/pekerja/tamu dan kendaraan dari dan ke lokasi penataan zona;
  • setiap orang yang akan masuk ke lokasi ataupun keluar lokasi kandang, harus mencuci tangan dengan sabun/disinfektan dan mencelupkan alas kaki ke dalam tempat/bak cairan desinfektan;
  • setiap orang yang berada di lokasi kandang pada zona yang di tata, harus menggunakan pelindung diri seperti pakaian kandang, sarung tangan, masker (penutup hidung/mulut), sepatu boot dan penutup kepala;
  • setiap orang harus melakukan tindakan desinfeksi diri sebelum dan sesudah bekerja di lokasi kandang pada zona yang ditata;
  • agar dicegah keluar masuknya tikus (rodensia), serangga, dan unggas lain seperti itik, entok, burung liar yang dapat berperan sebagai vektor penyakit ke lokasi peternakan; j. unggas dikandangkan secara terpisah berdasarkan spesiesnya;
  • kandang, tempat pakan dan minum, tempat pengeraman ayam, sisa alas kandang/litter dan kotoran kandang dibersihkan secara berkala sesuai prosedur;
  • tidak diperbolehkan makan, minum, meludah dan merokok selama berada di lokasi kandang pada zona yang ditata;
  • tidak membawa unggas yang mati atau sakit keluar dari area peterkan;
  • unggas yang mati di dalam area peternakan harus dibakar dan dikubur sesuai dengan ketentuan yang berlaku;
  • kotoran unggas diolah misalnya dengan dibuat kompos sebelum kotoran dikeluarkan dari area peternakan;
  • air kotor hasil proses pencucian agar langsung dialirkan keluar kandang secara terpisah melalui saluran limbah ke dalam tempat penampungan limbah (septic tank) sehingga tidak tergenang di sekitar kandang atau jalan masuk lokasi kandang pada zona yang ditata.

Pemeliharaan unggas di permukiman

1.Tata Laksana Pemeliharaan

  • unggas dikandangkan secara terpisah berdasarkan spesiesnya;
  • pabila tidak memungkinkan membuat kandang di pekarangan maka hanya diperbolehkan melakukan pemeliharaan unggas secara kolektif

2.Tindakan desinfeksi dan sanitasi

  • unggas dikandangkan secara terpisah berdasarkan spesiesnya;
  • hindarkan anak-anak dan orang tua agar tidak terjadi kontak langsung dengan unggas;
  • cuci tangan setelah kontak dengan unggas;
  • pekarangan, kandang, tempat pakan dan minum, tempat pengeraman, sisa alas kandang/litter dan kotoran unggas dibersihkan secara teratur setiap hari dengan menggunakan desinfektan;
  • gunakan masker atau penutup mulut dan hidung serta sarung tangan pada saat kontak langsung dengan unggas;
  • unggas yang baru datang, dipelihara secara terpisah selama dua minggu sebelum disatukan dengan unggas lainnya yang telah dipelihara;
  • unggas yang mati di dalam area pekarangan, dibakar dan dikubur sesuai prosedur;
  • tidak membawa unggas sakit atau mati keluar dari area pekarangan;
  • unggas kesayangan harus dipelihara dalam sangkar dan tidak membiarkannya keluar kandang;
  • bagi petugas yang melakukan pelayanan kesehatan hewan agar selalu mencuci tangan dengan sabun/desinfektan dan membersihkan alas kaki apabila berpindah dari satu rumah ke rumah lain.

 

 

Sumber :

Permentan Nomor 28/Permentan/OT.140/2008 tentang Pedoman Penataan Kompartemen dan Penataan Zona Usaha Perunggasan

Keputusan Menteri Pertanian Nomor 4026/Kpts/OT.140/4/2013 tentang Penetapan Jenis Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS)

Anonim. 2019. Manfaat Penggunaan Biosekuriti Tiga Zona di Peternakan

http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/17/11/07/oz0twt423-manfaatpenggunaan biosekuriti-tiga-zona-di-peternakan)

Ditjenpkh. 2019. Kementan dan FAO Dorong Peternak Unggas Terakan Biosekuriti 3 Zona.

http://ditjenpkh.pertanian.go.id/kementan-dan-fao-dorong-peternak-unggas-terapkan-biosecurity-3 zona

Hadi, U.K. 2010. Pelaksanaan Biosekuriti pada Peternakan Ayam.  Faultas Kedoteran Hewan, Intitut Pertanian Bogor, Bogor.

Categories:

Kontak Kami

Jalan Tanjung Pura Karang Malang Indramayu

eMail : disnakkeswan.imy@gmail.com

Tlp : 0234 – 7121830